Bandung (13/9) – Alat bantu Video Laryngoscope untuk intubasi ternyata sangat membantu memudahkan dokter dan perawat dalam melakukan intubasi pasien ICU, terutama kepada pasien covid 19 yang memerlukan tindakan intubasi. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Inhouse Trainning Airways Management yang diselenggarakan Bagian SDM dan Diklit Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu (RSPR) pada hari Senin, 13 September 2021. Hadir sebagai pemateri Kepala Instalasi Perawatan Intensif (IPI/ICU) dr. Adhy Permana, Sp.An dan Clinical Specialist PT Hospi Niaga, Rizkiana Samarind.

Berbeda dengan Direct Laryngoscope dimana pada saat melakukan tindakan intubasi memerlukan jarak yang sangat dekat karena harus melihat langsung saluran pernafasan pasien. Video Laryngoscope memberikan risiko minimal kontak jarak dekat dengan saluran pernafasan pasien karena dilengkapi dengan alat bantu layar visual. Di masa pandemi covid-19 sekarang ini alat bantu intubasi ini diharapkan bisa mengurangi risiko tenaga kesehatan terpapar virus covid-19 ketika melakukan tindakan pasien.  

 Airways Management sendiri merupakan proses medis untuk memastikan adanya jalur terbuka antara paru-paru pasien dengan dunia luar, serta mengurangi terjadinya risiko aspirasi. Selain itu, Airway Management merupakan pertimbangan utama dalam resusitasi cardiopulmonary, anestesi, obat-obatan darurat, obat perawatan intensif dan pertolongan pertama.

Pelatihan ini dilaksanakan untuk para Pelaksana Pemberi Asuhan (Dokter, Perawat) yang bertugas di Unit Perawatan Intensif (Intensif Care Unit), Instalasi Bedah, dan Instalasi Rawat Inap. Pelatihan dilaksanakan secara virtual melalui zoominar (aplikasi zoom) untuk teori. Sedangkan untuk praktek/skill pelatihan dilaksanakan dengan pembelajaran tatap muka terbatas. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan melaksanakan praktek airways management cara penggunaan Video Laryngoscope secara bergantian.

Asep Sona Susana, A.Md. Kep, salah satu perawat yang bertugas di ICU mengatakan alat Video Laryngoscope ini sangat membantu sekali perawat ataupun dokter dalam melakukan tindakan intubasi pada pasien ICU, terutama pasien covid 19. “Pasien covid 19 di ICU rata-rata saturasi oksigennya sudah jelek dan bisa sampai 30. Alat ini sangat membantu sekali mengurangi resiko”, ujarnya.

Sementara itu, Sub Koordinator Pengembangan SDM dan Diklit RSPR, Rina, S.SI., M.Kes sangat mengapresiasi para peserta yang antusias mengikuti pelatihan internal ini. “Di tengah kesibukan dinas melakukan pelayanan kepada pasien, tapi rekan-rekan dokter dan perawat bisa membagi waktu dan kesibukan untuk tetap bisa mengikuti pelatihan. Tentu kita sangat apresiasi”, ucapnya.

Menurut Rina, selain dibutuhkan dalam menunjang skill pegawai (dokter dan perawat) dalam melakukan pelayanan kepada pasien, IHT Air Ways Management ini juga merupakan kegiatan terjadwal di Subbag Pengembangan SDM dan Diklit yang dapat diperhitungkan dalam memenuhi pengembangan kompetensi ASN 20jpl per tahun.

Diakui Rina, pelatihan dan pembelajaran selama pandemi memang lebih banyak dilaksanakan secara daring/virtual. Beberapa pelatihan yang menuntut kemampuan skill mau tidak mau harus dilaksanakan secara tatap muka, tapi tetap dengan menjaga protokol kesehatan. Namun demikian, sejauh ini pembelajaran bisa berjalan optimal sesuai yang diharapkan.***(Diklit RSPR)

Leave a Reply